aaqq's posts with tag: living in holland
|  | atas undangan joop, sang vokalis, gue pun menyempatkan *haalaaah* datang bersama temen-temen utrecht untuk menonton salah satu band indonesia yang ada di belanda, BEBAS. band BEBAS beranggotakan orang-orang indonesia yang berasal dari utrecht, haarlem dan amsterdam; mereka adalah: heri - vocal, melati - vocal, joop - vocal, haris - bass, reynaldo - guitar, rhein - keyboard/guitar, dan binsar - drum.
saat ini mereka masih menjadi cover band dan bermain 2 minggu sekali di waterhole bar di amsterdam. setiap manggung, hampir bisa dipastikan menjadi ajang rame-ramean buat banyak anak indonesia di sana. band ini pun, sesekali menyelipkan lagu-lagu indonesia yang ditanggapi dengan sangat heboh oleh pengunjung yang hadir, apalagi orang-orang indonesia. bahkan, dangdut pun sesekali mereka tampilkan.
buat gue, mereka bermain dengan bagus, rapi dan sangat menghibur. vokalisnya.. yang satu gila (piss joop.. piss) dan yang satu aktif bergerak (goyangannya mantep, her). harmonisasi suara dan karakter keduanya membuat band ini memang sangat menghibur. so, kalau kalian sempat datang ke amsterdam di saat weekend, mampirlah di waterhole bar, siapa tau mereka sedang bermain di sana.
o ya.. kalau mau bisa join mereka di facebook: http://www.facebook.com/group.php?gid=4656414706 |
|  | salah satu yang membuat kota utrecht begitu menarik adalah banyaknya cafe, bar dan restaurant yang bertebaran di seluruh penjuru kota. memang, mencari live music di cafe/bar di belanda lumayan sulit. namun jika kita jeli dan mau tanya, beberapa bar dan cafe memiliki jadwal live music yang lumayan teratur. salah satunya adalah cafe 't oude pothuys. setiap hari senin, bahkan mereka memberikan kesempatan untuk siapapun yang mau (dan mampu) untuk menyanyi ataupun ber-jam session.
malam tadi, salah satu sahabat saya menebalkan muka maju di podium kehormatan, ditemani sang maestro gitar dari utrecht. hasilnya? sukses berat! bravo koem!! dan mantap ka!! :)
dan saya?.. seperti biasa jepret2.. dan nge-blog-in itu semua di sini dan www.aaqq.net :) |
|  | ini salah satu cara kami membunuh weekend.. *halah*
tidak banyak memang tempat bilyard di utrecht ini. kalau tidak salah cuma ada dua. dudulnya, seberapa seringnya gue maen ini, ternyata tidak pernah menjadi jago. entah faktor presisi yang kurang mantap, kemampuan megang stick yang tidak pas, ataupun kesalahan menentukan perspektif. *ah.. udah bego mah.. bego aja..*
ah tapi.. apapun itu, bermain bilyard selalu menyenangkan... paling-paling partner maen kita yang misuh-misuh kalo kita maennya lelet ataupun.. goblogsh. |
|  | inilah salah satu spot/place favorite gue di utrecht... perpustakaan. *really?*.
sejak pertama ngeliat gedung yang terletak depan-depanan dengan kantor/kampus/ruangan gue di utrecht university, gue udah jatuh cinta dengan exterior dan interior gedung ini. belum lagi teknologi dan kelengkapan materi di dalamnya.
ini pun tempat favorite para mahasiswa untuk belajar menjelang ujian. pada saat dua minggu sebelum ujian, jangan harap mendapatkan bangku kosong di dalamnya. gue pun, beberapa kali mengungsi ke sini, entah untuk bekerja ataupun mencari ilham. benar-benar sebuah perpustakaan yang membuat gue betah di dalamnya...
*photo kursi didedikasikan untuk imgar.. hehehe* |
untuk kebutuhan makan seminggu, membeli kebutuhan masak secara borongan biasa gue lakukan di albert heijn, sebuah toko swalayan terlengkap dan tertua di belanda. one stop shopping, begitu gue selalu menyebut ritual belanja mingguan ini. mulai dari beras sampe bawang goreng, tersedia lengkap di sana. berputar-putar selayaknya emak-emak berbelanja, tak disangka dan tak dinyana, ternyata gue menemukan seonggok hati sapi. membayangkan semur hati sapi buatan nyokap, gue pun membelinya dengan perasaan berbunga-bunga. akhirnya.. gue bisa makan hati sapi juga. harga hati sapi memang lebih murah dibanding membeli daging sapi ataupun ayam. untuk ayam, harga termahal adalah ayam tanpa tulang, kecuali di minggu-minggu tertentu, ada diskon khusus yang membuatnya sangat murah. seorang sahabat, biasa memborong ayam-tersebut dan menyimpan selama beberapa minggu *merki abis lo.. huakakak*. setelah itu berturut-turut paha ayam, sayap ayam, hingga bagian-bagian lainnya, termasuk jantung dan hati ayam. hati sapi? jangan tanya.. jarang banget. no wonder kenapa gue begitu senangnya kan? tengah malam, sambil membuat kopi di ruangan dapur, tiga bule rumah ini tiba-tiba meminta gue untuk membuka freezer kulkas gue. rupanya mereka melihat ketika gue memasukan belanjaan ke dalam kulkas tadi sore. sambil membuka, mereka mengambil hati sapi gue dan mengatakan kalau gue gak bisa makan itu karena itu adalah bagian yang jarang dimakan oleh manusia. jeng..jeng...jeng... gue gak kaget sebenarnya, karena banyak cerita mengenai bagian-bagian sapi ataupun ayam yang memang tidak dimakan oleh mereka, dan karena itu dijual murah di beberapa toko daging. sambil berusaha tenang gue menyiapkan kata-kata untuk mengatakan bahwa di indonesia kita *kita?? lo kali ma golok tukang daging* terbiasa untuk memakan ini dan menjadikannya sebagai makanan yang enak. seperti biasa, gue juga udah membayangkan kekagetan mereka. seraya berpikir bahwa mereka akan terkagum-kagum tentang keberagaman kultural di seluruh dunia. seperti halnya kemaren mereka terkaget-kaget ngeliat gue makan nasi di pagi hari *asli.. lagi lapar.. sisa nasi kemaren pula.. sayang kan kalo gak abis*. dengan bangga gue pun bilang kalo di indonesia kita makan berat 3 kali sehari. ugh.. gue pun kembali melihat sebuah perbedaan yang indah.. what a wonderful world. tapi, sebelum gue sempat untuk mengatakan hal tersebut, si bule cuma menunjuk sebuah label bulatan hijau di pojokan pembungkus, dan berkata.. qq ini artinya.. for animal, kita biasa kasih untuk anjing. what?? tiba-tiba martabat bangsa gue pun kembali menaik. what the hell dengan perbedaan. what the hell dengan keindahan dunia. yang pasti.. gue gak mau keliatan kalo orang indonesia makan makanan anjing mereka. titik.
gue pun cuma bisa mengatakan: oh ya? waaah.. gue pikir itu daging sapi. kok mirip yah? udah gitu, tulisannya juga mirip yah? *gue.. best actor untuk academy award 2009*. malam itu juga.. semur hati sapi gue pun melayang di tempat sampah dapur. sigh... bendungan!@@#$@! this article is also published in www.aaqq.net
tinggal lama di negara orang, sedikit banyak menambah pengetahuan soal kebudayaan dan juga kebiasaan hidup mereka *itu juga bagian dari kebudayaan kan?*. mulai dari bangun tidur hingga mau tidur lagi, banyak hal yang gak pernah gue pikirkan sebelumnya dan ternyata malah jadi kepikiran *dudul banget kan?*. salah satunya adalah soal mengganti handuk. sebenarnya ini bukan pemikiran baru sih, apalagi bukan hal yang terlalu penting juga di era global warming seperti sekarang ini *heh?*. gue melihat fenomena ini berbulan-bulan yang lalu dimana housemates gue menjemur banyak handuk setiap waktu mencuci tiba, juga pada saat berkunjung ke beberapa rumah teman-teman gue di mana koleksi handuk mereka yang banyaknya ampun-ampunan. sedangkan gue? cuman punya 2 handuk besar dan 2 handuk kecil. terakhir adalah pada saat gue menginap di salah satu teman lama di utara belanda sana. tumpukan handuk menjadi pemandangan di kamar mandi mereka, dan itu memaksakan gue untuk bertanya. kudu.. kudu dan kudu. setelah berdiskusi panjang lebar dan tertawa yang lebar panjang, ternyata sang partner adalah pengguna handuk harian. setiap hari dia pasti mengganti handuk, termasuk diantaranya handuk muka. setiap hari? iya.. satu handuk perhari. gak percaya. ya udah. sebuah hal remeh yang kemudian gue refleksikan pada diri sendiri. gue biasanya mengganti handuk pada saat mulai terasa kotor, bau, ataupun berubah warna. bisa jadi dua minggu atau bahkan sebulan. pas gue di indonesia, kayanya gue juga gak ganti handuk sesering dia. padahal cuaca di indonesia kudunya bikin handuk jauh lebih bau dibanding di belanda, karena keringat yang kita usapkan lebih banyak yang menempel di handuk. iya gak? dia bilang mengganti handuk sering-sering adalah hal wajar bagi orang-orang di belanda ini. ah.. really?? sebagian besar mengganti handuk sekali atau dua kali setelah mereka pake, begitu katanya. tapi teuteup.. buat gue kok kayanya itu tetep kebanyakan ya om? di dunia, kebiasaan mengganti handuk ini pun ternyata beragam. gue ambil contoh di website ini. dari hasil survey cepat mereka, 30% ternyata mengganti handuk setelah 1-2 kali pakai, 31% setelah 3-4 kali pakai, 21% setelah 5-6 kali pakai dan 18% mengganti setelah 7 kali pakai atau lebih. di website lain, datanya lebih menarik: sekali pakai (24%), sampe handuknya bau (28%), seminggu sekali (19%), tergantung siapa yang nginep (3%) dan setiap saat (26%). jadi.. gue yang ganti handuknya... berarti ........ ? hahahaha... ya owlooh... jorok banget ya? gue akhirnya mencoba serius iseng bertanya pada beberapa temen indonesia gue. syukur banget.. ternyata gue tidak sendirian.. fiuuh. beberapa temen gue ganti handuk lebih dari satu minggu bahkan sebulan. hahahaha. memang bukan sesuatu hal yang patut untuk dibanggakan sih. seperti oknum X yang saya tanya dengan malu-malu, ternyata beliau tidak pernah mengganti handuk kecuali memang hidungnya mencium bau yang tidak sedap pada handuk ituh. owh.. may gowwd.. juga oknum Y yang ternyata mencuci handuk jika ia melihat warna handuk itu sudah mencapai cokelat kehitaman. secara handuk dia adalah handuk berwarna putih pecah. huekks. ada lagi yang ganti handuk jika cuaca terang, sehingga jika ia mencuci pagi, maka sore sudah bisa ia pake lagi. ini biasanya karena handuknya cuman ada satu. huahahaha.
tapi pada akhirnya, dari perbincangan gak penting itu, gue menjadwalkan mengganti handuk setiap seminggu sekali. gak terlalu jorok kan untuk orang yang tinggal di negara yang bikin kita gak berkeringat dan orang yang mandi sehari sekali? iya bener.. gue cuman mandi sehari sekali di sini. abis dingin banget dan kalo sering-sering mandi bikin kulit wajah jadi pewcah-pewcah *ngeles abis*. eniwei kalo kalian gimana? ganti handuk setelah berapa hari? this article is also posted in www.aaqq.net
| |